MAKASSAR – PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia di Bantaeng telah 15 kali mengekspor nikel ke China, dengan total ekspor sebanyak 10 ribu metrik ton nikel.

Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah (NA) menyatakan hal itu saat melakukan peresmian Smelter PT. Huadi Nickel-Alloy Indonesia di Kabupaten Bantaeng, Sabtu (26/1).

“Jujur saja seakan-akan kita bermimpi meresmikan perusahaan smelter ditengah-tengah daerah yang tidak memiliki potensi nikel,” kata Nurdin Abdullah.

Nurdin berpendapat, membangun smelter di Bantaeng merupakan langkah yang berani, karena dulu beban puncak listrik di Bantaeng hanya 8 Megawatt (MW) sementara yang dibutuhkan smelter mencapai 140 MW.

Pembangunan s,elter di Bantaeng disebutnya mampu menyerap tenaga kerja lokal hingga 2.000 orang. Sedangkan tenaga kerja asing hampir tidak ada. Tenaga kerja asing hanya ditempatkan untuk tenaga teknis saja dan itu pun sudah hampir dan perlahan akan berkurang.

“Satu kesyukuran kita ada 50.000-60.000 metrik ton dan ini akan dikembangkan dalam waktu dekat akan menjadi 200.000 metrik ton. Dengan serapan tenaga kerja 2.000. Kita ini orang Bantaeng tinggal satu bagaimana kita mensyukuri apa yang sudah ada. Jangan dironrong, kalau mau meronrong ingat masa lalu kita siapa yang melirik Bantaeng,” ujarnya.

Daerah itu juga disebutnya menjadi satu-satunya kawasan industri dengan harga tanah yang masih terjangkau. Di daerah lain harganya mencapai jutaan rupiah per meter, sedangkan di tempat ini hanya Rp70-100 ribu.

“Sangat murah, kami sudah back-up tidak boleh perorangan harus korporasi. Sejak saya tidak boleh ada spekulan, kenapa pertumbuhan industri lambat itu karena tanah,” sebut mantan Bupati Bantaeng ini.

Dalam acara ini dilakukan penyerahan SKEP Kawasan Berikat oleh Kakanwil Bea dan Cukai Sulawesi, Penandatangan Mou dengan PLN dalam kerjasama penyediaan daya tahap kedua sebesar 150MVA. MoU dengan Bank BNI dalam rangka pembiayaan tahap kedua.

Sementara itu, Bupati Bantaeng, Ilham Syah Azikin, menyebutkan, pengembangan industri diharapkan menjadi sumber pendapatan yang baru bagi Bantaeng. Melengkapi sektor pertanian dan jasa yang ada sebelumnya.

“Kami mengundang seluruh investor yang ingin menanamkan investasi. Kami adalah keberlanjutan pemerintahan yang telah ditanamakam oleh Pak Nurdin Abdullah,” sebutnya.

Juga pada kesempatan ini dilaksanakan MoU dengan
Akademi Komunitas Kementrian Perindustrian berkenaan dengan kerjasama peningkatan sumber
daya manusia di Bantaeng.

Sedangkan, Komisaris PT. Huadi Nickel-Alloy Indonesia Amir Jao berharap. Perusahaan ini menjadi salah satu contoh keberhasilan investasi di Bantaeng, Dengan kehadiran PT. Huadi Nickel-Alloy Indonesia akan membuka peluang investasi-investasi lain di Bantaeng khususnya di Kawasan Industri sehingga perkembangan daerah dapat dirasakan oleh semua pihak, pemerintah daerah dan masyarakat pada umumnnya.

PT. Huadi Nickel-Alloy Indonesa adalah perusahaan pengolahan dan pemurnian nikel yang berada di
Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. PT. Huad Nickel-Alloy Indonesia didirikan sejak tahun 2014 sebagai kerja sama investasi antara PT. Duta Nikel Sulawesi dari Indonesia dan Shanghai Huadi, Co.
Ltd dari China.

Artikel asli tayang di: Sindonews Makassar