Jakarta, Petrominer — Kawasan Industri Bantaeng (KIBA) di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, akan segera mendapat suplai listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) berkapasitas 600 Megawatt (MW). PT Energi Nusantara Merah Putih (ENMP) menyatakan siap menggelontorkan dana hingga US$ 980 juta (Rp 13 triliun) untuk pembangunan PLTGU dan infrastruktur pendukung lainnya di kawasan industri tersebut.

Kepastian pembangunan PLTGU tersebut menyusul ditandatanganinya Heads of Agreement (HoA) antara ENMP dengan para direksi industri di KIBA. Kerjasama ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Bantaeng.

ENMP bersama anak perusahaannya yaitu PT. Pasifik Agra Energi sebagai pemilik dan pembangun terminal penerima gas alam cair (LNG) dan PT. Power Merah Putih, sebagai pemilik dan pembangun PLTGU akan bekerja untuk menjamin ketersediaan energi di KIBA serta menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat distribusi gas alam cair untuk kawasan Indonesia tengah dan timur.

Kedua proyek ini sedang dalam tahap pengembangan dengan perkiraan total biaya investasi sebesar US$ 980 juta. Dalam pengembangan kedua proyek tersebut, ENMP juga menggandeng Atlantic, Gulf and Pacific Company of Manila (AG&P), perusahaan berbasis di Filipina yang memiliki dan mengoperasikan infrastruktur dan solusi LNG.

“Dengan adanya proyek integrasi ini, para industri penunjang di KIBA dapat segera merealisasikan pembangunan LNG Receiving Terminal yang menjadi bagian penting dari pembangunan pembangkit listrik sebesar 600MW tersebut, yang ditargetkan beroperasi pertengahan tahun 2021,” kata Presiden Direktur ENMP, Westana H. Wiratmaatmadja, usai menandatangani HoA di Jakarta, Kamis (10/8).

Westana menjelaskan, pihaknya menggandeng AG&P karena perusahaan ini ahli dalam membawa LNG ke pasar off-grid dengan infrastruktur standar pragmatis dan jalur cepat. AG&P akan berfokus pada perancangan, konstruksi dan pengoperasian LNG Receiving Terminal di KIBA.

Chief Financial Officer and Head of Commercial AG&P, Abhilesh Gupta, menyatakan pihaknya sangat senang bisa ikut mendukung proyek penting ini di Bantaeng.

“Kami berharap dalam waktu singkat LNG tersedia bagi pembangkit listrik dan pengguna industri serta konsumen di seluruh Sulawesi Selatan dan pulau terdekatnya. “AG&P akan berusaha untuk mencapai tujuan ini,” kata Gupta.

Saat ini, proyek dalam tahap detail engineering dan diharapkan dapat mencapai financial closing dalam jangka waktu satu tahun dan dilanjutkan dengan konstruksi.

Smelter Terbesar

Dengan mendorong pengembangan wilayah berbasis industri, Bantaeng akan menjadi salah satu pusat pengolahan (smelter) nikel terbesar di dunia dan tentunya akan memberikan sumbangsih yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia dan Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Bantaeng.

KIBA merupakan kawasan industri seluas 3.000 hektare di Kabupaten Banteng. Kawasan yang menjadi pusat industri smelter nikel ini, dibentuk oleh Bupati Bantaeng, Nurdin Abdullah, menyusul adanya larangan ekspor bahan mentah mineral oleh pemerintah pusat melalui Peraturan Pemerintah Nomor 12 tahun 2014.

Kawasan ini diberikan segala kemudahan bagi investor dalam suatu layanan khusus melalui Perusda Bantaeng yang membuat Kabupaten Bantaeng diminati banyak investor dari dalam dan luar negeri untuk membangun industri smelter. Industri tersebut tumbuh pesat dan terus membutuhkan energi listrik besar yang dapat memenuhi kebutuhan karakteristik unik kebutuhan listrik para tenants.

Berikut daftar tenants di KIBA:

  1. PT. Huadi Nickel Alloy
  2. PT. Titan Mineral Utama
  3. PT. Bantaeng Central Asia Steel
  4. PT. Sinar Deli Bantaeng
  5. PT. Intim Perkasa Energi
  6. PT. Multi Kilang Pratama
  7. PT. Sergion Techno
  8. Inensunan Mills Indonesia

——

Artikel asli dimuat di: Petrominer.com dengan judul: PLTGU 600 MW Untuk Pasok Listrik Kawasan Industri Bantaeng

- Enovathemes