Hari Bumi, Kolaborasi Selamatkan Alam Semesta

By Wadi Niki In Berita

Penanaman Pohon Serentak 24 Kabupaten/Kota Se-Sulsel

Hari Bumi dimulai dari kekhawatiran tentang lingkungan yang semakin memburuk di Amerika Serikat pada tahun 1960-an. Polusi udara dan air menjadi masalah serius karena konsumsi bahan bakar yang besar dan limbah industri yang tidak terkendali. Pada tahun 1962, buku “Silent Spring” karya Rachel Carson memicu kesadaran publik tentang bahaya polusi terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.

Sejarah Hari Bumi

Peringatan Hari Bumi mulanya diinisiasi dari Senator Gaylord Nelson, yang ingin menggabungkan energi dari protes mahasiswa dengan kesadaran masyarakat tentang polusi udara dan air. Bersama dengan Denis Hayes, mereka mengorganisir acara pengajaran di kampus-kampus dan memilih tanggal 22 April sebagai Hari Bumi. Pada tahun 1970, Hari Bumi dirayakan secara nasional di Amerika Serikat, dengan 20 juta orang berpartisipasi dalam demonstrasi menentang dampak negatif dari perkembangan industri terhadap kesehatan manusia.

Peringatan Hari Bumi, Kolaborasi Selamatkan Alam Semesta

Kabupaten Bantaeng mengikuti secara daring penanaman pohon serentak di 24 kabupaten kota se-Sulsel dipimpin langsung Penjabat Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan, Bahtiar Baharuddin dari Kabupaten Wajo, Senin, 22 April 2024.

Menurut Bahtiar Baharuddin, program sedekah pohon tidak hanya menandai komitmen Sulawesi Selatan terhadap keberlanjutan lingkungan. Tetapi juga menjadi simbol solidaritas dan aksi kolektif masyarakat dalam menjaga bumi.

“Hari ini kita memberikan pesan kuat kepada masyarakat Sulawesi Selatan bahkan seluruh dunia pada Hari Bumi, 22 April ini adalah momentum untuk membangun kesadaran seluruh umat manusia. Dihuni 8 miliar orang hidup di bumi yang sama, kita mau memastikan, merawat agar anak cucu kita menikmati,” kata Bahtiar Baharuddin dalam pidatonya, Senin, 22 April 2024.

Provinsi Sulawesi Selatan memiliki kawasan hutan seluas 2.610.000 Ha sesuai dengan SK 263 tahun 2019, dengan lahan kritis mencapai 41.715,10 Ha dan lahan sangat kritis seluas 70.054,57 Ha. Upaya rehabilitasi telah dilakukan pada beberapa lahan rusak, dengan rehabilitasi sekitar 400 Ha per tahun yang berada di luar kawasan hutan dan 2.000 Ha per tahun yang termasuk dalam kewenangan pemerintah pusat.

Namun, jika hanya mengandalkan program rehabilitasi hutan dan lahan yang bersumber dari anggaran APBD/APBN, yang hanya mampu melaksanakan sekitar 2.400 hektar per tahun, dibutuhkan waktu hingga 187 tahun untuk pemulihan total. Oleh karena itu, inisiatif penanaman pohon ini menjadi sangat penting.

Lebih lanjut menurut Bahtiar, rehabilitasi kerusakan hutan membutuhkan waktu lebih kurang ratusan tahun karena hampir setiap waktu terjadi pengrusakan hutan.

“Maka untuk merehabilitasi lahan yang rusak dan sangat kritis itu, maka kita perlu waktu 187 tahun. Karena setiap hari, setiap pekan, setiap bulan dan setiap tahun bertambah lahan kritis dan rusak kita,” ujarnya.

Dari total 2 juta bibit pohon yang ditanam, 25.000 batang berasal dari Persemaian Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Sulsel, 300.000 batang dari Persemaian BPTH, 150.000 batang dari Persemaian BPTH Jeneberang, dan sisanya dari CSR perusahaan seperti PT. Vale, PT. PLN, Bank Sulselbar, serta kontribusi dari berbagai lembaga dan masyarakat.

“Atas nama masyarakat Sulsel, saya ucapkan terima kasih,” ucapnya.

Sementara itu, Penjabat Bupati Kabupaten Bantaeng, Andi Abubakar, bersama Penjabat Ketua TP PKK Kabupaten Bantaeng, Andi Raodhayanti, beserta unsur Forkopimda, Pimpinan OPD, Huadi Group, Camat, Lurah, Pelajar dan Mahasiswa.

Andi Abubakar mengaku, penanaman pohon serentak ini memang merupakan kepedulian baik pemerintah maupun stakeholder dalam melindungi alam semesta. Pemkab Bantaeng bersama seluruh stakeholder menanam di sekitar Cekdam Balangsikuyu dikarenakan lokasi ini kondisinya berpotensi banjir.

“Hari ini selain kita melakukan penanaman pohon, kita juga melakukan penebaran bibit ikan mudahan-mudahan ini terus berkembang biak, sehingga keberadaan pohon membantu untuk menjaga kesuburan tanah, mengurangi polusi udara, menahan laju air dan erosi, mencegah banjir, hingga menambah keindahan pemandangan,” jelas Pejabat Bupati Bantaeng.

Peran Serta Huadi Group

Pelibatan peran serta yang dilakukan dalam memperhatikan dampak pada lingkungan juga menjadi perhatian Huadi Group, salahsatunya dalam keterlibatan peringatan Hari Bumi. Candev Huadi Group, Andi Dwi Fitra menuturkan, kegiatan yang berkaitan dengan penanaman pohon atau penghijauan pihaknya akan terus memberikan dukungan penuh.

“Selamat hari bumi sedunia, bersama kita jaga bumi kita dan menjaga alam kita. Kami mewakili Huadi Group senantiasa melakukan sinergi setiap kegiatan yang ada di Kabupaten Bantaeng, dan rencana penanaman pohon yang di lakukan secata bertahap ini, Insyallah kita akan selalu support,” tutur Andi Dwi Fitra.

Leave a reply

14 − six =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.